← Back to news

SOURCE NEWS

Suka duka pemain Afrika di panggung sepak bola Tarkam Indonesia

Pesepak bola Afrika menemukan peluang ekonomi lewat tarkam, tetapi rentan eksploitasi dan minim perlindungan kerja.

FULL ARTICLE · The Conversation Indonesia

Sepak bola antarkampung (tarkam) di Indonesia ternyata memiliki daya pikat tersendiri bagi para pesepak bola asal Afrika. Ketika akses menuju kompetisi profesional Liga 1 maupun Liga 2 tertutup atau tak lagi memberi ruang, sepak bola tarkam bergeser menjadi suaka ekonomi baru.

Temuan lapangan di Banten dan Jawa Tengah merekam keberadaan mereka yang tak lagi sekadar pemandangan asing, melainkan fenomena sosio-ekonomi yang berakar di level akar rumput.

Sebuah studi mencatat bahwa tipologi pesepak bola Afrika di panggung tarkam terbagi ke dalam empat artikulasi keberadaan:

1. Eks pemain liga profesional

Pesepak bola Afrika yang pernah mengenyam atmosfer kompetisi resmi, tetapi tereliminasi akibat regulasi kuota, usia atau penurunan performa.

2. Tidak berhasil di liga profesional

Pemain Afrika yang bertandang ke Indonesia murni untuk berburu turnamen profesional, tetapi tidak berhasil mendapatkan kontrak dan akhirnya bermain di tarkam dari satu desa ke desa lain.

3. Pelajar asal Afrika di Indonesia

Mereka yang menempuh pendidikan di Indonesia dan menjadikan sepak bola tarkam sebagai satu pengalaman dan sumber penghasilan.

4. Pengungsi

Orang berstatus pencari suaka yang menjadikan sepak bola tarkam sebagai instrumen bertahan hidup (survival mechanism) di tengah keterbatasan hak kerja formal.

Dinamika pemain Afrika dalam sepak bola antar kampung. Dedi Arman/BRIN
Dinamika pemain Afrika dalam sepak bola antar kampung. Dedi Arman/BRIN Image via The Conversation Indonesia ↗

Di tengah kesederhanaan lapangan tanah, para pemain dari berbagai kategori tersebut bertransformasi menjadi komoditas tontonan sekaligus idola lokal.

Secara ekonomi, perputaran uang di level tarkam tergolong signifikan. Untuk sekali laga, seorang pemain yang sudah punya nama dalam sepak bola tarkam dapat mengantongi honorarium sebesar Rp2 - 5 juta.

Sementara untuk pemain yang relatif baru, mereka bisa dibayar dibawah Rp2 juta untuk satu kali pertandingan dan tidak langsung sepenuhnya diterima bermain.

Nominal ini belum memperhitungkan insentif bonus kemenangan serta tradisi “saweran” dari penonton. Pada periode puncak turnamen, seorang pemain sanggup melakoni 20 hingga 30 pertandingan dalam sebulan.

Suasana penonton sepak bola Tarkam. Dedi Arman/BRIN
Suasana penonton sepak bola Tarkam. Dedi Arman/BRIN Image via The Conversation Indonesia ↗

Namun, di balik akumulasi pendapatan tersebut, tersembunyi struktur kerja yang amat rapuh (precarity). Berbeda dari iklim sepak bola profesional yang terikat regulasi dan kontrak formal, relasi kerja di arena tarkam serba transaksional: tanpa jaminan kepastian kerja, tanpa jaminan sosial, dan tanpa payung hukum.


Read more: Sains di balik gerakan salat: Benarkah bisa bikin fisik dan mental lebih sehat?


Implikasi paling krusial tampak ketika pemain mengalami insiden cedera parah di lapangan. Tanpa skema asuransi maupun perlindungan klub, seluruh risiko medis dan biaya pemulihan dibebankan sepenuhnya kepada individu pemain.

Panggung tarkam bagi pesepak bola Afrika pada akhirnya menjadi arena paradoks—antara peluang mengais rezeki dan kerentanan eksploitasi yang mengintai di setiap pertandingan.

SOURCE

Original publication

Read at The Conversation Indonesia ↗